Umum

Produksi Sampah Kota Pekalongan Tembus 162 Ton per Hari, TPA Degayu Masih Diawasi KLH

Pemerintah Kota Pekalongan berpacu dengan waktu untuk memenuhi catatan Kementerian Lingkungan Hidup KLH demi menjaga keberlangsungan operasional TPA Degayu. Pada Agustus ini, Ditjen Gakkum KLH…

Redaksi · · ⏱ 2 mnt baca · 👁 3x dibaca
Produksi Sampah Kota Pekalongan Tembus 162 Ton per Hari, TPA Degayu Masih Diawasi KLH
Klik foto untuk ukuran asli 🔍

Pemerintah Kota Pekalongan berpacu dengan waktu untuk memenuhi catatan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) demi menjaga keberlangsungan operasional TPA Degayu. Pada Agustus ini, Ditjen Gakkum KLH dijadwalkan mengevaluasi tindak lanjut sanksi administratif yang sebelumnya dijatuhkan ke TPA tersebut.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Kota Pekalongan, Dione Asteria, menyebut kondisi TPA seluas 5,8 hektare itu kini jauh lebih tertata dibanding saat darurat sampah lalu. Kendati demikian, TPA Degayu masih berada dalam pengawasan ketat.

“Bulan Agustus ini ada evaluasi untuk melihat sejauh mana tindak lanjut atas catatan yang berikan,” ujar Dione, Selasa (4/8).

DLH mencatat produksi sampah Kota Pekalongan mencapai 162 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 70 ton masuk ke TPA Degayu dan 70 ton lainnya diolah melalui 24 TPS3R serta 1 TPST. Namun, pengolahan di TPS3R belum maksimal karena baru 6 unit yang memiliki mesin pencacah, sementara sisanya masih manual dan terkendala lahan.

Iklan

Iklan: MassQua Depot Air Minum

“Harapannya yang masuk TPA tinggal residu. Namun karena pengolahan belum ideal, masih banyak sampah campur yang berakhir di TPA,” tambah Dione.

Salah satu TPS3R yang kini menjadi penopang pengurangan sampah menuju TPA adalah TPS3R Padukuhan Kraton dengan volume masuk melebihi 15 ton per hari.

Koordinator Operator TPS3R Padukuhan Kraton, Zakaria, mengungkapkan fasilitasnya memilah sampah anorganik, mengolah sampah organik menjadi kompos, dan mengirim sisanya sebagai residu ke TPA. Sayangnya, efektivitas kerja terkendala keterbatasan alat dan personel. “Saat ini hanya ada 3 operator yang aktif dari idealnya 8 orang. Kalau tenaga dan mesin cukup, 60–70 persen sampah sebenarnya bisa kita olah,” ungkap Zakaria, Selasa (4/8). Pemkot Pekalongan pun terus mengimbau masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah guna menekan volume residu dan mendukung keberlanjutan fungsi TPA Degayu.

Narasi video Pemerintah Kota Pekalongan masih berpacu memenuhi berbagai catatan dari Kementerian Lingkungan Hidup agar TPA Degayu tetap dapat beroperasi. Pada Agustus ini, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLH dijadwalkan mengevaluasi tindak lanjut sanksi administratif yang sebelumnya dijatuhkan kepada TPA tersebut.

Saat ini kondisi TPA Degayu dinilai lebih tertata dibanding saat darurat sampah tahun lalu. Di sisi lain, pengolahan sampah terus dioptimalkan melalui TPS3R dan TPST untuk mengurangi beban yang masuk ke TPA.

Salah satunya di TPS3R Padukuhan Kraton yang setiap hari menerima lebih dari 15 ton sampah. Namun, keterbatasan tenaga kerja dan kapasitas mesin membuat pengolahan belum maksimal, sehingga sebagian sampah masih harus dikirim ke TPA Degayu sebagai residu. DLH berharap masyarakat mulai memilah sampah dari rumah dan memanfaatkan layanan pengangkutan resmi agar volume sampah yang berakhir di TPA terus berkurang.

Iklan

Iklan: Arrahmah Tour

Baca Juga