Panitia dan Tim Kreator SKNC 2026 Minta Maaf atas Kontroversi Penampilan
Gelaran Simbangkulon Night Carnival SKNC 2026 yang dilaksanakan pada Kamis malam 10/9/2026 di Kertijayan/Simbang Kulon, Kabupaten Pekalongan, memicu kontroversi publik. Menanggapi kehebohan yang…
PEKALONGAN — Gelaran Simbangkulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang dilaksanakan pada Kamis malam (10/9/2026) di Kertijayan/Simbang Kulon, Kabupaten Pekalongan, memicu kontroversi publik. Menanggapi kehebohan yang timbul dari salah satu aksi pertunjukan teaterikal, pihak penyelenggara dan tim kreator peserta menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf resmi.
Dalam keterangan yang disampaikan langsung oleh perwakilan panitia, dijelaskan bahwa ajang karnaval ini diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan kegiatan Khitanan Massal ke-61 yang diadakan oleh PRNU Ranting Simbang Kulon.
Panitia membenarkan adanya penampilan peserta yang menjadi perbincangan viral. Pihak panitia mengakui tidak mengetahui secara detail konsep serta rincian atribut pertunjukan tersebut saat menyetujui keikutsertaannya.
"Kami dari perwakilan panitia membenarkan adanya kejadian tersebut dalam rangkaian malam kontes SKNC 2026. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan dan kekurangan kami dalam pengawasan," ujar perwakilan panitia.
Sementara itu, Muhammad Ahid selaku tim kreator perwakilan Tim Simone (Gang 1) menegaskan bahwa tidak ada maksud atau niat menjalankan ritual ajaran tertentu dalam penampilan mereka.
Ahid menyampaikan bahwa inspirasi visual dan koreografi murni diambil dari referensi berbagai pertunjukan karnaval di YouTube, seperti di daerah Malang dan Magelang. Kostum pertunjukan pun disewa dari Malang karena dianggap unik secara estetika.
"Kami dari Tim Simone menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan mendalam kepada seluruh pihak yang tersinggung. Kami mengakui kurang literasi dalam memahami makna simbol dari pertunjukan tersebut," jelas Ahid.
Terkait keberadaan kambing yang dibawa dalam peti mati, Ahid menegaskan hewan tersebut disiapkan murni untuk tradisi rahatan (makan bersama anggota tim) setelah acara berakhir, bukan bentuk ritual kurban.
Laporan: Admin | Editor: Admin

