Umum

Polemik SKNC 2026, Pemkel Simbang Kulon Evaluasi Konsep Penampilan Peserta

Pemerintah Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menanggapi polemik salah satu atraksi peserta Simbang Kulon Night Carnival SKNC 2026 yang mendadak viral di media…

Admin · ⏱ 2 mnt baca
Diterbitkan:
Polemik SKNC 2026, Pemkel Simbang Kulon Evaluasi Konsep Penampilan Peserta
Foto: Pekalonganinfo

PEKALONGAN — Pemerintah Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menanggapi polemik salah satu atraksi peserta Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang mendadak viral di media sosial. Pihak kelurahan memastikan bakal melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penyelenggaraan karnaval tersebut.

Lurah Simbang Kulon, Franky Irawan, menyampaikan bahwa atas arahan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pekalongan, pihaknya langsung melakukan koordinasi dan penggalian informasi bersama unsur-unsur terkait di tingkat lokal.

“Respons dari pemerintah, kami diperintahkan Pak Sekda untuk koordinasi dengan teman-teman yang ada di Simbang Kulon. Kami gali lagi apa yang sebenarnya terjadi, lalu setelah ini kami adakan evaluasi terkait SKNC,” ujar Franky saat ditemui di kantornya, Senin (14/9/2026). Franky menegaskan, skema kurasi dan pemantauan materi penampilan akan menjadi poin utama dalam perbaikan sistem penyelenggaraan ke depan. Panitia diwajibkan mengantongi dan menyeleksi detail konsep setiap kontingen sebelum dizinkan melenggang di ajang umum. “Harapan kami nanti panitia harus tahu penampilannya itu akan seperti apa sebelum melaksanakan perform,” tegasnya.

Pihak kelurahan tak menampik bahwa lonjakan antusiasme penonton pada SKNC edisi keempat ini di luar dugaan panitia. Kebutuhan warga akan sarana hiburan rakyat yang berkualitas dan gratis membuat kawasan Simbang Kulon disorot dan dipadati lautan manusia dari berbagai daerah.

Iklan

Iklan: MassQua Depot Air Minum

Di sisi lain, minimnya pemahaman serta literasi peserta terhadap latar belakang simbol atau kostum yang disewa dari luar daerah menjadi celah terjadinya kegaduhan.

“Teman-teman peserta itu sebenarnya ingin menampilkan hiburan yang terbaik untuk masyarakat. Namun, karena minimnya literasi dan tidak tahu apakah itu budaya tertentu atau bukan, akhirnya tergelincir di situ,” ungkap Franky.

Guna meluruskan keadaan, seluruh hasil klarifikasi bersama tim peserta dan penyelenggara akan dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan sebagai bahan pembenahan total pelaksanaan SKNC tahun-tahun mendatang.

Mewakili unsur pemerintahan setempat, Franky menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada publik atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari atraksi peserta tersebut. “Kami selaku aparat pemerintahan meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat atas mungkin ada yang tersinggung atau merasa itu bukan budaya kita. Kami mohon maaf,” tuturnya. Ia menambahkan, dinamika ini cukup membuat warga Simbang Kulon terpukul, terlebih di tengah suasana duka pasca-berpulangnya salah satu tokoh warga yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan kemasyarakatan. Ia pun memohon empati publik agar proses pembenahan internal ini dapat berjalan dengan tenang dan bijak.

Laporan: Admin

Iklan

Iklan: Arrahmah Tour

Baca Juga