Umum

Lewat Jelajah Alam, Rimbadwipa Kembali Gaungkan Petungkriyono Go UNESCO

Komunitas Rimbadwipa menggelar kegiatan ๐—๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜†๐—ผ๐—ป๐—ผ ๐—š๐—ผ ๐—จ๐—ก๐—˜๐—ฆ๐—–๐—ข pada 25โ€“26 Juli 2026 sebagai bagian dari peringatan satu tahun deklarasi pengajuan Hutanโ€ฆ

Redaksi ยท

Komunitas Rimbadwipa menggelar kegiatan ๐—๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜†๐—ผ๐—ป๐—ผ ๐—š๐—ผ ๐—จ๐—ก๐—˜๐—ฆ๐—–๐—ข pada 25โ€“26 Juli 2026 sebagai bagian dari peringatan satu tahun deklarasi pengajuan Hutan Petungkriyono menjadi Warisan Alam Dunia UNESCO.

Kegiatan ini mengajak peserta menjelajahi sejumlah destinasi alam, sejarah, dan budaya di Kecamatan Petungkriyono, di antaranya Curug Tirta Muncar, Situs Naga Pertala, Situs Watu Gedong, Curug Muncar, serta Desa Wisata Toleransi Kasimpar.

Founder Rimbadwipa, Sukma, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar wisata alam, melainkan upaya membangkitkan kembali semangat masyarakat untuk bersama-sama mendukung pengajuan Hutan Petungkriyono sebagai Warisan Alam Dunia UNESCO.

"Kegiatan kali ini untuk memperingati satu tahun deklarasi Petungkriyono Go UNESCO sekaligus membangkitkan kembali semangat dan menginspirasi teman-teman agar bersama-sama mengajukan Hutan Petungkriyono menjadi Warisan Alam Dunia UNESCO," ujarnya, Minggu (26/7).

Menurut Sukma, kampanye tersebut dilatarbelakangi semakin besarnya ancaman degradasi hutan dan budaya di berbagai daerah. Sementara itu, Petungkriyono dinilai masih memiliki ekosistem alam dan nilai budaya yang relatif terjaga.

"Petungkriyono masih terjaga, baik dari alam maupun budayanya. Semua itu harus kita lestarikan melalui sebuah gerakan nyata, salah satunya dengan mengajukan Hutan Petungkriyono menjadi Warisan Alam Dunia UNESCO," katanya.

Ia menjelaskan, Rimbadwipa sebelumnya juga telah menggelar berbagai kegiatan serupa, seperti Festival Rimba Indonesia, Rimba Fest Tropical Camp, serta berbagai jelajah alam dan sejarah di kawasan Petungkriyono.

Sukma menilai gerakan tersebut mendapat respons positif dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh agama, hingga masyarakat setempat. "Kalau tidak ada dukungan, tentu kegiatan seperti ini tidak akan bisa terlaksana. Alhamdulillah banyak pihak yang mendukung gerakan ini," ungkapnya.

Ke depan, Rimbadwipa berencana kembali menggelar sejumlah kegiatan bertema jelajah alam dan sejarah pada Agustus mendatang. Selain itu, mereka juga terus membuka petisi dukungan bagi masyarakat yang ingin ikut mendorong Hutan Petungkriyono menjadi Warisan Alam Dunia UNESCO.

"Kami berharap Hutan Petungkriyono benar-benar dapat menjadi Warisan Alam Dunia UNESCO, serta semakin banyak pihak yang berkolaborasi untuk memajukan dan melestarikan kekayaan alam maupun budaya Pekalongan," tutupnya.

Baca Juga