Umum

Kemarau 2026 Paling Ekstrem, PDAM Kota Pekalongan Ungkap Gangguan Pasokan Air

Puncak musim kemarau tahun 2026 yang cukup ekstrem berdampak langsung pada pelayanan air bersih di Kota Pekalongan. Sejumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirtayasa mulai mengeluhkan mengecilnya…

Admin · ⏱ 3 mnt baca
Diterbitkan:

Halaman 2 dari 2 — kembali ke awal artikel

Di sisi lain, sumber air mandiri milik Perumda Tirtayasa relatif terkendali. Debit sumur dalam hanya mengalami penurunan berkisar 2–3 liter per detik, sedangkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cepagan di Warungasem, Batang, masih beroperasi stabil di angka 65 liter per detik berkat koordinasi rutin bersama penjaga pintu air irigasi. Adapun potensi mata air Rogoselo di Kabupaten Pekalongan belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena pipa transmisi peninggalan tahun 1941 tersebut mengalami banyak kebocoran.

Guna menjaga ketercukupan pasokan tanpa menerapkan sistem pengaliran bergilir, Perumda Tirtayasa melakukan sejumlah rekayasa jaringan dan alih pasokan. Salah satunya dengan memindahkan pasokan untuk kawasan Bina Griya Blok A dan B yang semula ditopang SPAM Regional ke Reservoir Simbang. Selain itu, Perumda juga menutup suplai SPAM Regional ke Kelurahan Jenggot agar fokus pasokan dari Cepagan dapat didistribusikan ke wilayah Banyurip, Pringlangu, hingga kawasan Hotel Aston.

“Yang sebelumnya air tidak keluar, ini sudah ada indikasi lumayan air keluar, tetapi belum ada tekanan. Yang penting air keluar dulu,” terangnya.

Langkah rekayasa teknis lainnya adalah mengaktifkan kembali pipa lama di sekitar Jembatan PLN atau Jembatan Pabean untuk menyalurkan air dari Cepagan menuju kawasan Jalan Diponegoro dan Jalan Progo, yang saat ini masih dalam perbaikan titik bocor. Sebagai langkah darurat, Perumda Tirtayasa juga berkoordinasi dengan BPBD Kota Pekalongan untuk pengiriman air bersih via mobil tangki serta mengajukan bantuan tandon penampungan kepada TUJT.

Iklan

Iklan: MassQua Depot Air Minum

Christanto menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini merupakan yang paling ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan debit SPAM Regional yang mencapai 40 persen.

“Paling ekstrem dibanding tahun kemarin. Kalau yang sumur dan pengolahan kita insyaallah masih bisa. Kami Perumda Tirtayasa masih berusaha memenuhi kebutuhan air dan membagi aliran yang ada secara merata. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam menggunakan air selama musim kemarau,” pungkas Christanto.

Laporan: Admin | Editor: Admin

Iklan

Iklan: Arrahmah Tour

Baca Juga