Umum

Kemarau 2026 Paling Ekstrem, PDAM Kota Pekalongan Ungkap Gangguan Pasokan Air

Puncak musim kemarau tahun 2026 yang cukup ekstrem berdampak langsung pada pelayanan air bersih di Kota Pekalongan. Sejumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirtayasa mulai mengeluhkan mengecilnya…

Admin · ⏱ 3 mnt baca
Diterbitkan:
Kemarau 2026 Paling Ekstrem, PDAM Kota Pekalongan Ungkap Gangguan Pasokan Air
Foto: Pekalonganinfo

PEKALONGAN — Puncak musim kemarau tahun 2026 yang cukup ekstrem berdampak langsung pada pelayanan air bersih di Kota Pekalongan. Sejumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirtayasa mulai mengeluhkan mengecilnya debit hingga matinya aliran air. Gangguan utama ini terutama terjadi pada wilayah yang menggantungkan pasokan dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Jawa Tengah.

Kepala Bagian Teknik Perumda Air Minum Tirtayasa Kota Pekalongan, Christanto Utomo, mengungkapkan bahwa penurunan debit pasokan mulai terasa sejak akhir Juli dan mencapai titik terparah pada September 2026.

“Yang menjadi permasalahan kita saat ini, SPAM Regional itu mengaliri hampir 40 persen dari pelanggan kita. Pelanggan yang komplain sementara ini mayoritas berada di jalur-jalur SPAM Regional,” ujar Christanto saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).

Sistem SPAM Regional yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Tirta Utama Jawa Tengah (TUJT) mengandalkan air baku dari sungai. Kemarau panjang membuat debit sungai menyusut drastis, sehingga pengelola harus membagi alokasi air dengan kebutuhan irigasi pertanian.

Iklan

Iklan: MassQua Depot Air Minum

“Memang karena musim kemarau yang lumayan ini, debit mereka turun drastis karena mengambil air dari sungai,” jelasnya.

Kondisi tersebut memangkas alokasi pasokan normal 150 liter per detik yang biasa diterima Perumda Tirtayasa di tiga titik pengambilan (offtake). Pada offtake Pringrejo, debit pasokan anjlok dari 75 liter per detik menjadi sekitar 50 liter per detik. Penurunan lebih tajam terjadi pada offtake DLH yang merosot dari 55 liter per detik menjadi 20 liter per detik, serta offtake UIN Gus Dur yang turun dari 18 liter per detik menjadi kisaran 10 liter per detik.

Anjloknya debit tersebut memicu gangguan distribusi di berbagai kawasan, mulai dari Kelurahan Pringrejo, Padukuhan Kraton, Medono, Bendan Kergon, Pasirsari, Kramatsari, Pabean, Jalan Veteran, Bandengan, Dukuh, hingga Panjang Wetan dan Panjang Baru. Dampak terparah sempat dialami warga Kelurahan Tirto, di mana aliran air sempat mati total hingga satu pekan.

“Betul, itu karena Tirto ikut jalur SPAM Regional. Pasokannya sempat di angka 40 liter per detik, itu yang sangat berpengaruh di Tirto dan sekitarnya,” ungkap Christanto.

Iklan

Iklan: Arrahmah Tour