Karangdadap-Kedungwuni Mulai Terdampak Kekeringan, Aliran Air Mengecil saat Jam Puncak
Puncak musim kemarau mulai berdampak terhadap distribusi air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Pekalongan. Perumda Air Minum Tirta Kajen mencatat tekanan aliran air mulai berkurang, terutama…
Halaman 2 dari 3 — kembali ke awal artikel
“Karena armada sekitar hanya lima, memang ada beberapa antrean yang kami lakukan sampai malam hari, sampai dini hari di beberapa wilayah,” katanya.
Di sisi lain, Perumda juga melakukan sejumlah langkah teknis untuk menjaga distribusi air tetap berjalan selama musim kemarau. Salah satunya dengan mengatur tekanan agar aliran dapat lebih merata ke berbagai wilayah.
Hari mengatakan kondisi kekeringan saat ini terutama dipengaruhi menurunnya ketersediaan air baku akibat musim kemarau. Namun, pihaknya tetap melakukan upaya untuk meminimalkan kehilangan air dari jaringan distribusi.
Salah satunya melalui kegiatan yang disebut Tim Kalong, yakni penelusuran jaringan pipa pada malam hingga dini hari untuk mendeteksi potensi kebocoran. Kegiatan tersebut dilakukan ketika tingkat penggunaan air sedang rendah sehingga kebocoran lebih mudah diidentifikasi.
“Yang kami lakukan setelah jam 09.00 malam sampai sekitar jam 03.00 pagi. Karena di saat malam itu pemakaian bisa dikatakan rendah. Jadi umpamanya terdapat kebocoran pipa, itu bisa kita identifikasi,” jelasnya.
Perumda menyebut kondisi kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG. Jika kondisi semakin berat dan pasokan air tidak mencukupi, penggiliran distribusi menjadi salah satu opsi yang kemungkinan dilakukan.
Meski demikian, Hari menegaskan hingga saat ini distribusi air masih dapat dilakukan dan penggiliran belum diterapkan.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan waktu ketika tekanan air masih cukup dengan menampung persediaan air. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebocoran pipa di lingkungan sekitar.

