Umum

Jelang HUT ke-81 RI, Penjualan Bendera di Kota Pekalongan Turun Hampir 50 Persen

Penjualan bendera Merah Putih dan atribut kemerdekaan menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia di Kota Pekalongan dinilai lesu.

Redaksi · · ⏱ 2 mnt baca · 👁 2x dibaca
Jelang HUT ke-81 RI, Penjualan Bendera di Kota Pekalongan Turun Hampir 50 Persen
Klik foto untuk ukuran asli 🔍

Penjualan bendera Merah Putih dan atribut kemerdekaan menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia di Kota Pekalongan dinilai lesu.

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, para pedagang menyebut tingkat penjualan tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan.

Salah seorang pedagang bendera musiman asal Majalengka, Deni, mengungkapkan transaksi hingga Sabtu (8/8/2026) masih relatif sepi. Ia memperkirakan penjualannya anjlok hingga hampir 50 persen dibandingkan tahun lalu.

“Kalau tahun kemarin minimal bisa menjual lima kodi. Sekarang mau dapat tiga atau dua kodi saja susah,” ujar Deni saat ditemui di lapaknya.

Iklan

Iklan: MassQua Depot Air Minum

Kondisi ini berbeda dari tren tahun-tahun sebelumnya. Biasanya antusiasme pembeli mulai meningkat sejak awal Agustus dan mencapai puncaknya pada 5 hingga 6 Agustus. Namun hingga memasuki pekan kedua bulan ini, peningkatan pembeli belum juga terasa.

Deni menduga pelemahan daya beli masyarakat serta makin maraknya persaingan dari platform perdagangan daring (e-commerce) menjadi faktor utama di balik lesunya penjualan bendera di lapak fisik.

“Mungkin faktor ekonomi masyarakat. Selain itu, ada kemungkinan kami juga harus bersaing dengan penjualan secara online,” tuturnya.

Kendati harga modal dari pemasok naik sekitar Rp1.000 per lembar, Deni memilih tidak menaikkan harga jual kepada konsumen. Bendera ukuran standar 90x60 sentimeter tetap ia lepas seharga Rp20.000, sama seperti tahun lalu.

“Kalau harganya kami naikkan lagi, malah makin sepi. Sekarang saja kami sudah harus bersaing ketat dengan toko online,” tambahnya.

Di sisi lain, pembelian atribut kemerdekaan oleh masyarakat maupun instansi sejauh ini masih terus berjalan sesuai kebutuhan. Salah seorang pembeli asal Pekalongan Barat, Toyib, terlihat membeli satu umbul-umbul sepanjang 10 meter untuk dipasang di kantornya.

Ia mengaku baru membeli atribut baru lantaran pernak-pernik yang digunakan pada tahun-tahun sebelumnya sudah mulai usang.

“Kebetulan bendera yang lama sudah agak kusam, jadi perlu diganti dengan yang baru,” kata Toyib.

Menurut Toyib, masyarakat pada umumnya tidak selalu membeli bendera atau atribut baru setiap tahun, melainkan hanya memperbarui pernak-pernik kemerdekaan jika kondisi yang lama sudah tidak layak pakai.

Iklan

Iklan: Arrahmah Tour

Baca Juga